Udah lama ga posting, ni akhirnya gua posting lagi.
Setelah gua buat lampu emergency, ga gua posting ya. Ga papalah.
Ternyata butuh juga rangkaian untuk cas akinya. Setelah otak-atik sana sini, dan dengan bantuan program multisim 11 akhirnya gua berhasil membuat cas aki dengan 3 lampu indikator.
Lampu biru menyatakan bahwa cas dalam posisi On, kuning aki sudah mulai terisi dan merah tandanya aki sudah penuh. kalau mau lihat, tinggal di download
Download
Sabtu, 21 Maret 2015
Minggu, 09 November 2014
Mengenal SCADA dan Aplikasinya
Link
http://dimartr6.blogspot.com/2013_10_01_archive.html
Pendahuluan
SCADA merupakan singkatan dari (Supervisory Control and Data Acquisition). SCADA merupakan sistem pengawasan, pengontrolan dan pengumpulan data. Suatu sistem SCADA terdiri dari sejumlah RTU (Remote Terminal Unit), sebuah master station/RCC (Region Control Center), dan jaringan telekomunikasi data antara RTU dan Master Station. Dalam komunikasi data antara RTU dan Master Station maka dilakukan melalui media, dapat berupa fiber optik atau plc (power line carrier), atau melalui radio, dimana dalam hal ini data dikirimkan dengan protokol tertentu (biasanya tergantung vendor SCADA yang dipakai), misalnya Indactic 33, IEC-60870, dll. Sistem ini banyak digunakan di lapangan produksi minyak dan gas (upstream), Jaringan listrik tegangan tinggi (power distribution) dan beberapa aplikasi untuk memonitor dan mengontrol areal produksi yang tersebar di area yang cukup luas.
Kegunanaan
SCADA biasanya dipakai untuk pengontrolan suatu proses;
1. Proses Industri: manufaktur, pabrik, produksi, generator tenaga listrik.
2. Proses Infrastruktur: penjernihan air minum dan distribusinya, pengolahan limbah, pipa gas dan minyak,
distribusi tenaga listrik, sistem komunikasi yang komplek, sistem peringatan dini dan sirine.
3. Proses Fasilitas: Gedung, bandara, pelabuhan, statiun angkasa dan lain sebagainya.
Isi dari Sistem SCADA
Suatu sistem SCADA biasanya terdiri dari:
1. Antar muka manusia mesin, HMI/MMI (Human/Man Machine Interface)
2. Unit terminal jarak jauh (RTU) yang menghubungkan sensor-sensor pengukuran dengan proses diatas
3. Sistem pengawasan berbasis komputer untuk pengumpulan data.
4. Infrastruktur komunikasi yang menghubungkan unit terminal jarak jauh dengan sistem pengawasan.
5. PLC (Programmable Logic Controller)
Pengertian SCADA
SCADA (Supervisory Control and Data Acquisition) adalah sistem yang dapat memonitor dan mengontrol suatu peralatan atas sistem dari jarak jauh secara real time. SCADA berfungsi mulai dari pengambilan data pada Gardu Induk atau Gardu Distribusi, Pengolahan Informasi yang diteriman, sampai reaksi yang ditimbulkan dari hasil pengolahan informasi. Secara umum fungsi dari sistem SCADA adalah:
1. Penyampaian Data
2. Proses kegiatan dan Monitoring
3. Fungsi kontrol
4. Perhitungan dan pelaporan
Bagian-bagian SCADA
1. Telemetering
Adalah proses pengambilan besaran ukur tenaga listrik yang ada di gardu atau gardu distribusi yang dapat dimonitor di control center.
2. Telesignaling
Adalah status dari peralatan tenaga listrik, sinyal alarm dan sinyal lainnya yang ditampilkan disebut status indikasi. Status indikasi terhubung ke modul digital input dari RTU. Status indikasi terdiri dari indikasi tunggal (single) dan indikasi ganda (double). Indikasi ganda terpasang pada peralatan yang mempunyai dua keadaan, dimana satu keadaan menunjukkan kontak terbuka (open) dan keadaan lain menunjukkan kontak tertutup (close), seperti pada PMT (pemutus tenaga). Indikasi tunggal dipergunakan untuk menyampaikan data alarm dari peralatan tenaga listrik. Status indikasi dikirim ke pusat pengatur beban atau Control center bila terjadi perubahan status dari peralatan.
3. Telecontrol
Fungsi kontrol sistem tenaga listrik terbagi menjadi 4 bagian; yaitu:
- kontrol individu
- kontrol perintah untuk pengaturan peralatan
- kontrol otomatis, dan
- kontrol berurutan
Kontrol individu merupakan perintah langsung peralatan sistem tenaga listrik, seperti perintah buka atau tutup PMT dan PMS, dan perintah mulai atau berhenti unit pembangkit. Sedangkan kontrol otomatis adalah perintah perintah kontrol dari substasion automation, misalnya loading shading. Kontrol berurutan adalah kontrol otomatis dengan menggunakan aplikasi Distribution Managemen System (DMS).
Peralatan pada Sistem SCADA
Peralatan pada sistem SCADA terdiri dari perlengkapan hardware dan software. Peralatan SCADA terdiri dari:
1. Master komputer yang terdiri dari server dan Front End Computer.
2. Sarana komunikasi data terdiri dari, modem, defuser, amplifier, kabel pilot, radio, fiber optic dan PLC.
3. Remote Station (RTU)
4. Interface ke rangkaian proses atau periferal
Konfigurasi Sistem SCADA
Master station adalah merupakan pusat kendali dari sistem SCADA. Data-data yang diproses dan diperoleh dari gardu dikirim ke master station sedangkan perintah operator di Control Center dikirim dari master station ke gardu (RTU). Data ke control center melalui media komunikasi yang diterima melalui front end. Dalam hal ini front end berfungsi untuk melakukan polling terhadap Remote Terminal Unit (RTU).... To be continued
http://dimartr6.blogspot.com/2013_10_01_archive.html
Pendahuluan
SCADA merupakan singkatan dari (Supervisory Control and Data Acquisition). SCADA merupakan sistem pengawasan, pengontrolan dan pengumpulan data. Suatu sistem SCADA terdiri dari sejumlah RTU (Remote Terminal Unit), sebuah master station/RCC (Region Control Center), dan jaringan telekomunikasi data antara RTU dan Master Station. Dalam komunikasi data antara RTU dan Master Station maka dilakukan melalui media, dapat berupa fiber optik atau plc (power line carrier), atau melalui radio, dimana dalam hal ini data dikirimkan dengan protokol tertentu (biasanya tergantung vendor SCADA yang dipakai), misalnya Indactic 33, IEC-60870, dll. Sistem ini banyak digunakan di lapangan produksi minyak dan gas (upstream), Jaringan listrik tegangan tinggi (power distribution) dan beberapa aplikasi untuk memonitor dan mengontrol areal produksi yang tersebar di area yang cukup luas.
Kegunanaan
SCADA biasanya dipakai untuk pengontrolan suatu proses;
1. Proses Industri: manufaktur, pabrik, produksi, generator tenaga listrik.
2. Proses Infrastruktur: penjernihan air minum dan distribusinya, pengolahan limbah, pipa gas dan minyak,
distribusi tenaga listrik, sistem komunikasi yang komplek, sistem peringatan dini dan sirine.
3. Proses Fasilitas: Gedung, bandara, pelabuhan, statiun angkasa dan lain sebagainya.
Isi dari Sistem SCADA
Suatu sistem SCADA biasanya terdiri dari:
1. Antar muka manusia mesin, HMI/MMI (Human/Man Machine Interface)
2. Unit terminal jarak jauh (RTU) yang menghubungkan sensor-sensor pengukuran dengan proses diatas
3. Sistem pengawasan berbasis komputer untuk pengumpulan data.
4. Infrastruktur komunikasi yang menghubungkan unit terminal jarak jauh dengan sistem pengawasan.
5. PLC (Programmable Logic Controller)
Pengertian SCADA
SCADA (Supervisory Control and Data Acquisition) adalah sistem yang dapat memonitor dan mengontrol suatu peralatan atas sistem dari jarak jauh secara real time. SCADA berfungsi mulai dari pengambilan data pada Gardu Induk atau Gardu Distribusi, Pengolahan Informasi yang diteriman, sampai reaksi yang ditimbulkan dari hasil pengolahan informasi. Secara umum fungsi dari sistem SCADA adalah:
1. Penyampaian Data
2. Proses kegiatan dan Monitoring
3. Fungsi kontrol
4. Perhitungan dan pelaporan
Bagian-bagian SCADA
1. Telemetering
Adalah proses pengambilan besaran ukur tenaga listrik yang ada di gardu atau gardu distribusi yang dapat dimonitor di control center.
2. Telesignaling
Adalah status dari peralatan tenaga listrik, sinyal alarm dan sinyal lainnya yang ditampilkan disebut status indikasi. Status indikasi terhubung ke modul digital input dari RTU. Status indikasi terdiri dari indikasi tunggal (single) dan indikasi ganda (double). Indikasi ganda terpasang pada peralatan yang mempunyai dua keadaan, dimana satu keadaan menunjukkan kontak terbuka (open) dan keadaan lain menunjukkan kontak tertutup (close), seperti pada PMT (pemutus tenaga). Indikasi tunggal dipergunakan untuk menyampaikan data alarm dari peralatan tenaga listrik. Status indikasi dikirim ke pusat pengatur beban atau Control center bila terjadi perubahan status dari peralatan.
3. Telecontrol
Fungsi kontrol sistem tenaga listrik terbagi menjadi 4 bagian; yaitu:
- kontrol individu
- kontrol perintah untuk pengaturan peralatan
- kontrol otomatis, dan
- kontrol berurutan
Kontrol individu merupakan perintah langsung peralatan sistem tenaga listrik, seperti perintah buka atau tutup PMT dan PMS, dan perintah mulai atau berhenti unit pembangkit. Sedangkan kontrol otomatis adalah perintah perintah kontrol dari substasion automation, misalnya loading shading. Kontrol berurutan adalah kontrol otomatis dengan menggunakan aplikasi Distribution Managemen System (DMS).
Peralatan pada Sistem SCADA
Peralatan pada sistem SCADA terdiri dari perlengkapan hardware dan software. Peralatan SCADA terdiri dari:
1. Master komputer yang terdiri dari server dan Front End Computer.
2. Sarana komunikasi data terdiri dari, modem, defuser, amplifier, kabel pilot, radio, fiber optic dan PLC.
3. Remote Station (RTU)
4. Interface ke rangkaian proses atau periferal
Konfigurasi Sistem SCADA
Master station adalah merupakan pusat kendali dari sistem SCADA. Data-data yang diproses dan diperoleh dari gardu dikirim ke master station sedangkan perintah operator di Control Center dikirim dari master station ke gardu (RTU). Data ke control center melalui media komunikasi yang diterima melalui front end. Dalam hal ini front end berfungsi untuk melakukan polling terhadap Remote Terminal Unit (RTU).... To be continued
Rabu, 05 November 2014
Menghitung panjang kawat, jumlah lilitan, hambatan dan induktansi pada sebuah coil / selenoida / induktor
Inductor / coil / selenoida / kumparan saya rasa hampir semua orang tahu, kalo bahasa gampangnya ya gulungan kawat. Inductor banyak ditemukan pada hampir semua peralatan elektronika. Pemahaman tentang perancangan sebuah inductor saya peroleh ketika saya tertarik memperlajari coil gun "sebuah alat elektronik yang digunakan untuk melontarkan sebuah ferromagnetic projectile (peluru berbahan ferromagnetik)". Ketika saya dihadapkan pada perancangan coil gun saya dituntut untuk mengetahui berapa nilai induktansi dari inductor yang saya buat, dan untuk menghitung nilai induktansi maka banyak aspek yang harus diperhitungkan, seperti; panjang inductor, jari-jari inti, banyak lilitan, diameter kawat, dan hambatan. Untuk mengetahui dimensi-dimensi itu maka diperlukan perhitungan. Berikut perhitungannya:
1. Sebelumnya kita sepakati dulu, besaran-besaran dasar penyusun inductor.
Dengan:
L : Panjang Inductor
a : jari-jari inti inductor
d : ukuran diameter kawat penyusun inductor
N : jumlah lilitan kawat
Untuk n lapisan, maka besaran yang ditambah:
n : jumlah lapisan
D : tebal lapisan
2. Menghitung jumlah lilitan per lapisan, yaitu: panjang inductor dibagi dengan diameter kawat.
3. Menghitung panjang kawat perlapis, keliling inductor dikali jumlah lillitan perlapis
4. Menghitung panjang total kawat untuk n lapis:
Karena tiap lapis jumlah lilitan adalah sama, maka perhitungan diatas dapat disederhanakan menjadi:
dan untuk n lapis, maka persamaan ini dapat dilanjutkan, menjadi:
ini merupakan deret aritmatika, dan rumus total jumlah deret aritmatika diatas adalah:
Pers (3) merupakan persamaan menghitung total panjang kawat untuk membuat inductor, jika diketahui; jari-jari inti (a), diameter kawat (d), jumlah lapisa (n) dan Jumlah lilitan perlapis (Nn).
5. Menghitung jumlah lilitan inductor
Banyak cara digunakan untuk menghitung jumlah lilitan pada inductor, cara termudah adalah dengan mengalikan jumlah lilitan perlapis dengan banyak lapisan: N = Nn.n ..................... pers (3a)
Jika tidak diketahui jumlah lapis pada inductor, maka jumlah lapisan dapat dihitung melalui tebal inductor. Kita simbolkan tebal inductor dengan D (capital); maka D = n.d ........................ pers (3b)
Kembali ke pers 1, yaitu jumlah lilitan perlapis adalah panjang inductor dibagi dengan diameter kawat, dengan mensubstitusikan persamaan 3a dan 3b ke Pers(1) maka jumlah lilitan dapat ditulis dengan:
Dengan cara substitusi yang sama ke Pers (3), maka rumus lain untuk menghitung panjang kawat yang dibutuhkan dalam membuat inductor adalah:
6. Menghitung hambatan pada inductor
Untuk menghitung hambatan dalam pada inductor, maka diperlukan data tentang hambat jenis kawat dan luas permukaan kawat dan panjang kawat, rumus yang digunakan adalah:
7. Menghitung nilai Induktansi Inductor
Dalam menghitung nilai induktansi banyak cara yang dapat diterapkan, dan sering dari berbagai cara-cara tersebut memberikan hasil yang berbeda. Disini penulis telah mencoba menerapkan rumus untuk menghitung nilai induktansi yang penulis peroleh dari http://id.wikipedia.org/wiki/Induktor#Rumus_induktansi dan membandingkan hasilnya dengan menggunakan software coilmaestro lihat di blog ini pada menu download. Maka hasilnya berbeda namun ordenya sama, dengan kemiripan sekitar 70%. Lalu penulis juga pernah membandingkan dengan menggunakan alat ukur ESR meter
1. Sebelumnya kita sepakati dulu, besaran-besaran dasar penyusun inductor.
Dengan:
L : Panjang Inductor
a : jari-jari inti inductor
d : ukuran diameter kawat penyusun inductor
N : jumlah lilitan kawat
Untuk n lapisan, maka besaran yang ditambah:
n : jumlah lapisan
D : tebal lapisan
2. Menghitung jumlah lilitan per lapisan, yaitu: panjang inductor dibagi dengan diameter kawat.
3. Menghitung panjang kawat perlapis, keliling inductor dikali jumlah lillitan perlapis
4. Menghitung panjang total kawat untuk n lapis:
Karena tiap lapis jumlah lilitan adalah sama, maka perhitungan diatas dapat disederhanakan menjadi:
dan untuk n lapis, maka persamaan ini dapat dilanjutkan, menjadi:
ini merupakan deret aritmatika, dan rumus total jumlah deret aritmatika diatas adalah:
Pers (3) merupakan persamaan menghitung total panjang kawat untuk membuat inductor, jika diketahui; jari-jari inti (a), diameter kawat (d), jumlah lapisa (n) dan Jumlah lilitan perlapis (Nn).
5. Menghitung jumlah lilitan inductor
Banyak cara digunakan untuk menghitung jumlah lilitan pada inductor, cara termudah adalah dengan mengalikan jumlah lilitan perlapis dengan banyak lapisan: N = Nn.n ..................... pers (3a)
Jika tidak diketahui jumlah lapis pada inductor, maka jumlah lapisan dapat dihitung melalui tebal inductor. Kita simbolkan tebal inductor dengan D (capital); maka D = n.d ........................ pers (3b)
Kembali ke pers 1, yaitu jumlah lilitan perlapis adalah panjang inductor dibagi dengan diameter kawat, dengan mensubstitusikan persamaan 3a dan 3b ke Pers(1) maka jumlah lilitan dapat ditulis dengan:
Dengan cara substitusi yang sama ke Pers (3), maka rumus lain untuk menghitung panjang kawat yang dibutuhkan dalam membuat inductor adalah:
6. Menghitung hambatan pada inductor
Untuk menghitung hambatan dalam pada inductor, maka diperlukan data tentang hambat jenis kawat dan luas permukaan kawat dan panjang kawat, rumus yang digunakan adalah:
7. Menghitung nilai Induktansi Inductor
Dalam menghitung nilai induktansi banyak cara yang dapat diterapkan, dan sering dari berbagai cara-cara tersebut memberikan hasil yang berbeda. Disini penulis telah mencoba menerapkan rumus untuk menghitung nilai induktansi yang penulis peroleh dari http://id.wikipedia.org/wiki/Induktor#Rumus_induktansi dan membandingkan hasilnya dengan menggunakan software coilmaestro lihat di blog ini pada menu download. Maka hasilnya berbeda namun ordenya sama, dengan kemiripan sekitar 70%. Lalu penulis juga pernah membandingkan dengan menggunakan alat ukur ESR meter
Maka hasil yang diperoleh lebih mendekati perhitungan menggunakan software coilmaestro dari pada rumus induktansi dari wikipedia. Maka disini penulis menyarankan untuk memperleh hasil pengukuran yang lebih akurat dapat menggunakan ESR meter atau kalau gak ada duit ya bisa download software coilmaestro .
Langganan:
Postingan (Atom)



